Ilmu Jalanan | Obrolan antara Aku, seorang teman, dan lelaki tua.


Aku adalah seorang lelaki. Aku suka berimajinasi. Setiap hari, ku habiskan waktu dengan membaca kira-kira 15 menit. Sering kali aku coba menulis beberapa cerita pendek atau puisi. Aku suka menulis tentang perjalanan hidup ku, terutama pengalaman hidup atau kejadian yang menarik hati ku. Aku bisa menulis apa pun yang ingin ku tulis. Lewat pengalaman hidup orang lain, atau lewat diskusi-diskusi kecil antara aku dan siapa saja yang aku temui. 

Hari ini, aku ingin menulis tentang hasil diskusi antara aku dan seorang yang tak aku kenal.

Malam itu, tepatnya malam Sabtu. Suasana di pinggiran jalan kota Surabaya agak berisik. Hiruk pikuk suara kendaraan seolah mengganggu pikiran ku. Terasa bising. Namun, aku masih setia berada di sana. Menyaksikan ramainya kota akhir pekan. Lalu, mata ku berpaling pada sebuah truk tua yang terparkir di depan sebuah ruko. Tak ku hiraukan siapa gerangan orang yang mengendarai truk itu.

Ku lanjutkan obrolan ku dengan seorang teman. Berbagai topik dari yang terberat hingga yang teringan menjadi bahasan kami malam itu. Sesekali, kami berbagi pengalaman perjalanan hidup setiap kami, baik tentang masa kecil ataupun tentang kehidupan di desa.

“Mba, kopi panas dua ya”. Kata ku pada seorang penjaga warkop (warung kopi). Kemudian, ku ambil sepotong gorengan dan mengunyah nya perlahan, sambil mendengarkan temanku bercerita.

“Ini mas, kopinya! Silahkan di minum”, kata perempuan penjaga warkop itu beberapa menit kemudian. “Oiya mba makasih ya”, jawabku, sambil mengangkat kopi itu dan meletakkannya di depan seorang teman.

Entah dari mana, tiba-tiba seorang bapak menghampiri kami. “Misi mas, numpang duduk sini ya”. Kata bapak itu. “Baik, silahkan pak”. Aku mempersilahkan bapak itu mengambil tempat di samping kami.

“Lagi ngopi ya", tanya bapak itu.

"Iya pak", jawab teman ku.

“Bapak dari mana?”, tanya ku.

“Dari Jakarta, mas. Ini bentar lagi mau balik. Ke sini cuma ngantar barang aja”.

“Ohhh gitu ya”, angguk ku.

Bapak tersebut rupanya adalah sopir dari truk tua tadi. Dari raut wajahnya, aku coba menduga kalau ia adalah sosok pekerja keras. Seorang lelaki tua yang rela meninggalkan keluarganya demi mencari sesuap nasi.

“Mas berdua di sini tinggal sama siapa”? Tanya bapak itu sekali lagi.

“Kita di sini merantau, pak". Jawab ku.

Kami lalu melanjutkan obrolan. Namun, kali ini kami lebih dominan menjadi seorang pendengar. Sebagai seorang bapak yang berpengalaman dalam kehidupan, ia membagikan kisahnya pada kami malam itu, seolah kami adalah anak-anaknya. Aku berusaha mencerna kata demi kata yang terucap dari bibir lelaki tua itu. Aku tak ingin melewatkan satu kata pun.

“Jaga pergaulan. Ingat orang tua di kampung. Mereka di sana bekerja keras untuk kalian. Lihat bapak, semua ini bapak lakukan hanya untuk istri dan anak-anak. Sekolah yang benar ya mas, agar bisa jadi orang sukses”. Nasehat lelaki tua itu pada kami.

“Pak, kopinya diminum dulu. Sudah dingin. Sayang kalau nggak di minum, kelamaan basi”. Kata ku sedikit bercanda. “Oiya mas, silahkan”. Jawab sang bapak.

Aku pun menyeruput kopi itu seteguk dan berusaha hanyut dalam kenikmatannya. “Kopi, terkadang sebagai teman terbaik di kala sepi. Namun, kopi bagi saya adalah minuman pembawa rindu. Ia mengingatkan saya pada kopi buatan mama”, kataku pada seorang teman dan lelaki tua itu. Mereka hanya mengangguk dan tertawa terpingkal-terpingkal.

Ilustrasi minum kopi

“Mas berdua lanjut ya ngobrolnya. Bapak pamit dulu. Doakan, semoga bapak sampai rumah dengan selamat”. Pamit lelaki tua itu setengah jam kemudian.  

Amin! Aku dan seorang teman menjawab secara bersamaan.

“Terima kasih pak, nasehatnya. Hati-hati di jalan”. Sambung teman ku.

Kami lalu melambaikan tangan pada sang bapak dan membiarkan ia pergi. Truk tua itu terus kami tatap, sampai tubuhnya perlahan hilang dari wajah kami.

“Terima kasih Tuhan, telah mempertemukan aku dengan seorang bapak yang baik hati” kata ku dalam hati.

* * * 

23 Mei 2021


Post a Comment

0 Comments

Search This Blog

Daftar Isi