Terjebak Hujan di Ragunan

Gambar: ayojakarta.com/ via kelloggsnyc.com/

Pada Mei 2022 lalu, siang itu cuaca di kota Jakarta cukup cerah. Jalanan ramai dipenuhi berbagai macam kendaraan. Berdesak-desakan untuk keluar dari kamecatan yang ada. Maklum, hari itu adalah hari terakhir libur lebaran. Di kota-kota besar, kemacetan seperti ini telah menjadi hal biasa.

Siang itu, kami sedang berada di rumah. Ketika kami sedang makan siang, tiba-tiba saja sang paman bertanya pada bibi “Hari apa ini?”

“Hari minggu”, Kata bibi.

“Ke Ragunan yuk”, Sambung bibi.

Dan secara spontan pula paman mengiyakan.

Spontanitas terkadang adalah kejutan yang tak pernah kita duga. Dalam sebuah hubungan, spontanitas sering kali kita anggap sebagai sebuah keromantisan. Misalkan saja, tiba-tiba kita di berikan kejutan hadiah ulang tahun. Atau bisa juga dengan hal sesederhana pada siang itu.  

Akan tetapi, dalam bisnis spontanitas bisa juga merupakan sebuah ide brilian yang terjadi di luar dugaan kita. Akhir-akhir ini, dapat kita amati bahwa berkat spontanitas telah membuka peluang bisnis baru bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. 

Salah satu contohnya adalah fenomena “Citayam Fashion Week”, yang lahir dari spontanitas anak-anak muda dalam mengekspresikan jati diri mereka.

Berkat spontanitas siang itu, tanpa sadar saya pun diberi kesempatan menikmati keindahan Kebun Binatang Ragunan. Salah satu kebun binatang terbesar di pusat ibu kota – yang bahkan jarang saya lihat di televisi waktu kecil dulu. Maklum, saya adalah seorang anak kampung yang sedang merantau di pusat ibu kota.

Karena penasaran, saya coba mencari tahu tentang keberdaan kebun binatang Ragunan di Wikipedia. Dari sana saya memperoleh beberapa informasi penting tentang kebun binatang ini. 

Lokasinya berada di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, tepatnya daerah Ragunan. Luas kebun binatang Ragunan adalah 140 hektare dan didirikan pada tahun 1864.

Ada beragam koleksi di sana, terdiri dari 4040 spesimen dan 295 spesies di dalamnya. Di dalam kebun binatang Ragunan, kita bisa bertemu dengan beragam spesies hewan langka seperti; Orangutan, gajah, jerapah, gorila, anoa, kakatua, dan lain sebagainya.

Pertama kali lihat jerapah - Ragunan Zoo
(Gambar: Dokumen Pribadi)


Pertama kali lihat Gajah - Ragunan Zoo
(Gambar: Dokumen Pribadi)

Pada hari itu adalah hari dimana pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Ragunan. Saya sangat bersyukur, diberi kesempatan mengunjungi tempat-tempat baru. Khususnya mengamati hewan-hewan langka di dunia.

Melalui pengalaman ini, saya belajar bahwa jika manusia menjadi unik dan langka ibarat hewan-hewan langka di kebun binatang tersebut, maka kemungkinan mereka akan dicari dan dikagumi dunia. Bahkan mereka akan dirawat, dididik, dan dicintai semua orang. Dan apabila mereka mati, dunia pun akan turut bersedih karena kehilangan sosok manusia langka.

Ibaratkan seekor gajah atau orangutan terlangka di dunia yang pernah mati. Kemudian disiarkan di beberapa televisi di seluruh dunia. Bahkan mereka merasa kehilangan terhadap spesies hewan langkah itu.

Akan tetapi, saya menyadari bahwa kita adalah manusia. Kita memiliki keunikannya masing-masing. Dan keunikan kita berbeda dengan hewan-hewan langka di kebun binatang itu.

Kita memiliki akal budi, yang telah dianugerahkan Tuhan sejak kita lahir.

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus meniru orang lain?

Atau menjadi diri sendiri yang unik dan berbeda?

Kemudian, pada sore itu hujan pun turun. Para wisatawan berlari mencari tempat berteduh. Padahal mereka baru saja ingin mengamati beragam jenis hewan langka di kebun binatang itu. Saya mendengar beberapa orang mengeluh kepada hujan.

“Sial, hujan lagi, hujan lagi”. Begitu kata mereka.

Saya juga sempat kesal pada hujan. Apakah ia tidak mengerti bahwa saya baru pertama kali datang ke tempat ini? Hehehe

Akan tetapi, hujan rupanya membawa berkah. Atas kehadiran dirinya, sebuah keromantisan dapat tercipta kembali pada hati insan manusia yang pernah saling marah. Bahkan, hujan dapat menyatukan kembali hati yang pernah patah.

Di sana, kau akan berdiri dan mengamati anak-anak dilindungi oleh ibu mereka. Sedangkan sang ayah, akan berusaha menutupi hujan dengan segala cara, agar istri dan anaknya tidak basah dan kedinginan.

Sementara para jomlo, diam mematung sebagai seorang pengamat sejati.

Itulah sedikit kisah perjalanan kami ke Ragunan beberapa waktu lalu.

SALAM!

Post a Comment

0 Comments

Search This Blog

Daftar Isi